Artikel Oleh aripurwahyudi

Sistem Konduksi Jantung

Jantung manusia berdenyut dimulai saat listrik/ impuls merambat sepanjang jalur konduksi jantung. hal ini meyebabkan otot jantung berkontraksi sehingga menimbulkan pemompaan darah oleh jantung. Bagaimana hal ini bekerja? Ikuti interaktif ini dan pahami bagaimana listrik jantung mempengaruhi  dan memberikan hidup bagi anda.

Klik disini untuk mengunduh interaktif ini


Seminar ASMICNA

Kegiatan : Seminar dan Workshop

Waktu  : 9 – 10 Juli 2010

Tempat : Hotel Ciputra

Jalan S. Parman, Jakarta.

Info hotel : Klik disini

Organizer : ASMICNA (Persatuan Perawat Kardiovaskuler Indonesia)

Contact  : SEKRETARIAT ASMICNA


Ruang Bidang Keperawatan RS Jantung dan Pembuluh Darah

Harapan Kita.

Jl. Let. Jend. S. Parman Kav. 87 Slipi, Jakarta Barat 11420

Phone: (021) 568 4093/85/86 ext. 1367 Fax. (021) 5532243

Email : asmicna@yahoo.com

Contact Person: Eni Rosdiana, SKp, MM.

MUNGKIN TIDAK BILA

Adalah dentang kerinduan
Bertabur pilu menghentak
Bisu tapi nyaring dalam rongga dada
Yang membuncah iringi kelam dan hitam malam ini
Bersandar pada biduk utara yang semakin bergeser kearah barat
Atau rona pucat bulan sepenggalah sabit
Saat embun pertama mulai menghujam bumi

Lantas kepada siapakah aku harus bertutur
Dan menyapa bercengkerama?
Pada dingin anginkah?
Pada sejuk embunkan?
Atau pada kerlip bintang yang hiasai langit?
Atau pada gelap yang selimuti malam

Entahlah
Mungkin tidak bila dirimu disisiku saat ini
Mungkin tak kan kubiarkan tetes airmata ini menjadi mutiara hiasan dipipiku
Atau sesenggukkan tangis ini
Menjadi alunan irama malam
Dan biarkan diriku dalam hempasan kerinduanku

Sejenak saja cinta
Mungkin hanya sekejap yang kuminta
Hadirlah disini
Untukku

Jakarta, April 08
(ketika rindu itu membalutku dalam sunyi malam)

DAN KAU TERNYATA MEMANG

Seribu kesah terlontar
Kala kau ucapkan seribu petuah
Yang bagiku tak lebih dari celoteh seorang marah
Beradu kata memanaskan suaramu yang makin melengking

Diam
Kemudian tangis
Memuncah merindingkan suasana
Yang buat kita semakin diam

Menit berlalu
Sedetak demi sedetak mengumpulkan irama diam bisu
Aku diam
Kau diam
Seolah keheningan itu adalah bahasa kita

Lantas terucap “aku begini karena ayah‚”
“Karena perlawanaanku terhadap sikap ayah”
“Karna ayah begitu egois, mau menang sendiri, dan kaku”

Segunung amarah itu
Pun runtuh dalam isak tangismu
Dan dekap eratkupun tak mampu perangi rasa sesal dan bersalah itu
Kemarilah kekasihku
Kemarilah

Semua salahku
Dan biarlah kutebus
Dengan peluk erat sayangku

Dan kau ternyata memang
Mencintaiku lebih dari yang kutahu
Bahkan dalam marahkupun
Kau tetap mencintaiku

Bunda,
Maafkan aku
Sekali lagi maafkan aku

Jakarta, April 2008

CUKUP LEBIH DARIPADA

Telah terlalu lama kudekap sahabatku

Yang bernama kesendirian

Telah lama kurajut cerita sedih dengan kawanku

Yang bernama kesepian

Dan jalinan liku hidup yang bernama kepedihan

Menuntunku

Pada sebuah ego yang meledak

 

Namun

Begitu lembut sinar cintamu

Mengiring sekelumit senyum dari bibirmu

Alunan merdu suara itu,

Menghentakkanku dalam kesadaran

Membelaiku dalam dekapan sayang

Dan bisik mesra itu : ” bunda sayang ayah”

 

Melibas segala jejak kelam

Yang selama ini kujalani

Dengan keangkuhan dan kesombongan diri

Oh begitu ringkihnya aku dihadapmu

Bersimpuh dengan sejuta sesal

Dan untai kutuk diri

Meratapi segala kebodohan yang telah kubuat

 

“Apa yang harus kubuat lagi?

Untuk buktikan sayangku ke ayah?”

Menggelegar tegas merdu suaramu

Melepas segala sombong dan angkuh yang telah lama kudekap

 

Cukup sayang

Cukup sudah isak dan tangis itu

Cukup lebih daripada

Apa yang telah kau berikan padaku : HIDUP

 

Jakarta, April 08

WHO AM I ?

Lantas siapakah diriku?
Yang berdiri di penghujung malam
Bercengkerama dengan semilir angin
Dan bersenandung diiringi irama jatuhnya embun di ujung dedaunan

Entah lagu apa yang kumainkan
Bahkan pun aku tak mengerti menyanyikah aku?
Atau sekedar berguman atau menangispun aku tak mengerti

Hanya satu cerita yang kumengerti
Malam ini
Ya malam ini
Tentang sesenggukanmu itu
“tapi aku tak mau kehilangan ayah”

Kekar keras kepala batuku pun tak mampu mengartikannya
Sedang realita mempunyai bentuk lain
Meski seperti air yang aku sendiri tak mengerti untuk menyebutnya
Berbentuk seperti apakah itu

Lantas siapakah diriku?
Entah!
Mungkin kau tahu?

BERHARAP PADA HARAP

Berguling gulung sesak dan amarah
Yang benamku dalam kehancuran diri
Berentet berantai mencari kemegahan diri
Bersandar keangkuhan
Dan fatamorgana yang bernama : bahagia

Berkilah bahagia
Dengan senyum yang mungkin terasa kupaksakan
Berdalih menikmati hidup
Meski dengan kegembiraan tanpa senyum

Oh
Betapa bodohnya diri
Mengakui ketaksempurnaan hidup
Dengan senyum terkulum yang rapuh oleh
Amarah, kebencian dan seribu duka

Dan tapal batas kerinduanku
Meraung raung menghimpitku pada nyata
Ku merana
Kusendiri
Kumenangis
Dalam gempita dunia yang menyanjungku
“begitu bahagianya dirimu”

Gengam erat dan hangat pelukmu, bunda
Adalah sejuta bahagia sesungguhnya
Adalah noktah akhir yang kucari selama ini
Bersandar rindu dan cinta
Semilir angin ini
Sejuk terasa menaungi diri dengan kesempurnaan hidup
Dan padamu
Kusandarkan jiwa
Yang berharap pada harap
Tuk jalani sisa perjalanan hidupku
Bersama cintamu

Jakarta, Februari 08

Page 3 of 3123