DAN KAU TERNYATA MEMANG

Seribu kesah terlontar
Kala kau ucapkan seribu petuah
Yang bagiku tak lebih dari celoteh seorang marah
Beradu kata memanaskan suaramu yang makin melengking

Diam
Kemudian tangis
Memuncah merindingkan suasana
Yang buat kita semakin diam

Menit berlalu
Sedetak demi sedetak mengumpulkan irama diam bisu
Aku diam
Kau diam
Seolah keheningan itu adalah bahasa kita

Lantas terucap,”aku begini karena ayah”
“Karena perlawanaanku terhadap sikap ayah”
“Karna ayah begitu egois, mau menang sendiri, dan kaku”

Segunung amarah itu
Pun runtuh dalam isak tangismu
Dan dekap eratkupun tak mampu perangi rasa sesal dan bersalah itu
Kemarilah kekasihku
Kemarilah

Semua salahku
Dan biarlah kutebus
Dengan peluk erat sayangku

Dan kau memang ternyata
Mencintaiku lebih dari yang kutahu
Bahkan dalam marahkupun
Kau tetap mencintaiku

Bunda,
Maafkan aku
Sekali lagi maafkan aku

Jakarta, April 2008

Dalam Kategori: hobbies & intermezzo


Bagikan Artikel

Komentar ditutup.