Asuhan Keperawatan pasien dengan Apendiksitis (rembering dwi timbul’s disease)

Definisi:

Apendiksitis , peradangan    perpanjangan vermiform , adalah suatu penyebab umum nyeri  abdominal akut dan merupakan alasan yang paling umum untuk pembedahan kegawatdaruratan abdominal.

Apendix adalah suatu kantong seperti tabung terkait dengan cecum  di bawah katup ileocecal .  Pada umumnya  terletak di  daerah iliac , pada suatu area yang disebut titik McBurney. Fungsi dari  apendix  tidak secara penuh dipahami, walaupun secara teratur terisi dan dan kosong pada saat pencernaan makanan

Apendiksitis dapat terjadi pada semua umur, dengan prevalensi kejadian 1-2:1000.  lebih umum terjadi pada anak remaja dan orang dewasa muda dan sedikit lebih pada pria dibanding wanita ( Thompson, Mc Farland,& Hirsch,1993).

Setidaknya rata rata 200.000 apendiktomi pada akut apendiksitis dilakukan setiap tahun di Amerika Serikat (Way,1994).

Patofisiologi

Apendiksitis dapat digolongkan sebagi apendiksitis sederhana, apendiksitis dengan ganggren, atau apendiksitis dengan perforasi. Pada apendiksitis sederhana, apendiks meradang namun masih utuh Ketika daerah sekitarnya menjadi nekrotik dan perforasi mikroskopik terjadi, gangguan yang muncul disebut sebagai apendiksitis gangrene. Dengan peningkatan perforasi apendiks,  dapat menyebabkan kontaminasi terhadap rongga peritoneal.

Nyeri abdomen  bagian atas adalah gejala khas awal apendiksitis  akut. Dalam  4 jam berikutnya, intensitas nyeri bertambah dan terlokalisisr di kuadrant bawah abdomen. Nyeri ini akan bertambah dan sangat mengganggu pada saat bergerak, berjalan, dan batuk. Pergerakan internal pinggul kanan juga meningkatkan nyeri ini. Sebagai tambahan nyeri ini, pasien secara khas terjadi penurunan suhu tubuh, anoxia, anorexia, mual, dan muntah.

Perforasi, peritonitis, abses dan pylephlebitis merupakan komplikasi dari apendiksitis akut. Perforasi dimanifestasikan dengan peningkatan nyeri dan demam tinggi. Ini dapat menyebabkan abses kecil terlokalisir, peritonitis lokal, atau peritonitis luas yang signifikan. Pyleplebhitis adalah radang  sistem vena porta oleh pus.  Pada kondisi lain, seperti Penyakit Chorn sering menyebabkan gejala yang menyertai apendiksitis kronik.

Karena peradangan apendiksitis akut dapat menyebabkan perforasi dalam 24 jam, hal ini menjadi sangat penting untuk menegakkan diagnosa secara cepat dan menginisiasi pengobatan. Karena kedaruratannya dan karena  morbiditas rendah yang menyertai pembedahan, test diagnostic dan laboratorium dan pengobatan pre operasi sangatt terbatas. Sekali diagnosa ditegakkan, segera dilakukan apendiktomi.

Beberapa tes laboratorium yang harus dikerjakan :

  • Hitung lekosit yang mengindikasikan adanya infeksi. Dalam apendiksistis , lekosit naik antara 10.000 -¬† 20.000 mm3
  • Urin analisis digunakan untuk mengetahui adanya urin yang mengandung eritrosit ataupun lekosit.

Pembedahan

Pengobatan pilihan untuk apendiksitis akut adalah apendiktomi, pembedahan yang digunakan untuk menghilangkan apendik. Laporotomy eksplorasi yaitu pembedahan untuk membuka abdomen untuk menganalisa organ dalam perut secara langsung , dilakukan ketika diagnosa tidak dapat menunjukkan  temuan seperti diagnosa apendiksitis.

Dalam beberapa kasus apendiks biasanya dibuang, meskipun itu tidak meradang, untuk mencegah resiko apendiksitis di masa datang. Laparotomi juga digunakan untuk melakukan apendiktomi. Satu irisan melintang di daerah McBurney di buat, apendik di isolasi dan diligasi utnuk mencegah kontaminasi dengan isi perut, dan kemudian dibuang. Penyembuhan secara umum dalam kondisi normal.

Keperawatan

Pasien semestinya tidak diberikan laksansia atau enema, karena prosedur ini dapat menyebabkan perforasi apendik. Abdomen tidak boleh dihangatkan, karena ini dapat menyebabkan peningkatan sirkulasi pada apendik dan juga dapat menyebabkan perforasi.

Diagnosa keperawatan pada pasien dengan apendiksitis termasuk :  gangguan perfusi jaringan dan nyeri.

Pada perencanaan dan implementasi asuhan keperawatan pada pasien dengan apendiksitis , perawat harus memikirkan respon pasien pada pembedahan yang mendadak. Pada saat awal pasien dengan jelas akan menggambarkan nyeri abdomen, dan perawat harus membatasi waktu sehingga dengan cepat dapat memberikan pendidikan kesehatan sebelum pasien dioperasi.

Gangguan perfusi Jaringan : gastro intestinal :

Intervensi keperawatan :

  1. Monitor perforasi dan peritonitis sebelum operasi
  2. Sebelum dan setelah operasi, monitor tanda vital pasien, termasuk tekanan darah, denyut nadi, dan irama, laju pernapasan dan suhu.
  3. Pertahankan cairan pengganti melalui intravena setelah operasi dan sampai pasien memungkinkan minum dengan adekuat selama setelah operasi.
  4. Periksa luka pasien, ketegangan perut, dan status nyeri setelah operasi.

Nyeri :

Intervensi Keperawatan :

  1. Kaji nyeri pasien termasuk  karakter, lokasi, tingkat nyeri dan durasi nyeri
  2. Berikan obat anti nyeri. Kaji kefektifan obat setengah jam setelah pemberian obat
  3. Berikan metode mengurangi nyeri termasuk distraksi, sentuhan teraupetik, pijatan, meditasi

Diagnosa Keperawatan yang lain :

  1. Ketakutan berhubungan dengan diagnosa yang tidak diketahui dan kemungkinan operasi
  2. Resiko infeksi berhubungan dengan disrupsi integritas perut
  3. Kerusakan jaringan kulit berhubungan dengan insisi abdominal.

Dalam Kategori: intensive care

Tags:


Bagikan Artikel

Komentar ditutup.