Interferensi Elektromagnetik pada Alat Medik

Bagaimanakah semua alat elektronik (radio, ponsel, televisi, radio komunikasi) dapat bekerja?

Jawabannya adalah karena adanya gelombang elktromagnetik.

Gelombang elektromagnetik:

  • kombinasi medan listrik dan medan magnet yang berosilasi dan merambat lewat ruang dan membawa energi dari satu tempat ke tempat yang lain
  • gelombang yang dapat merambat walau tidak ada medium

Pembentukan gelombang elektromagnetik :


Penghasil gelombang dua kutub memodulasi gelombang listrik dan gelombang magnetik yang disinkronisasi dan dioscilasi  menjadikannya sebagai gelombang elektromagnetik.

Pemancaran gelombang ini menghasilkan panjang gelombang tertentu yang berbanding terbalik dengan frekuensi yang dipancarkan.

Gelombang elektromagnetik dan Telepon Selular :

Pointing devices (penentuan titik letak) sebuah telepon seluler terhadap BTS (Base Transmission Station) suatu operator seluler adalah timbal balik pemancaran dan penerimaan gelombang elektromagnetik dari dan ke telepon selular oleh BTS sehingga telepon seluler dapat menggambarkan lokasi pemakainya  terhadap BTS yang merespon.

Dalam hal ini disebut sebagai Tampilan Sel Info, sehingga ketika kita berada di suatu daerah tertentu akan muncul di layar ponsel alamat BTS terdekat yang merespon sinyal ponsel. (Sebagai  contoh : operator Telkomsel sudah menampilkan setiap kecamatan di seluruh Indonesia.)

Gambar 1. Pointing Devices (satu) BTS


Gambar 2. Pointing Devices (dua) BTS


Gelombang Elektromagnetik di lingkungan Rumah Sakit.

Rumah sakit sebagai institusi kesehatan akan selalu berhubungan dengan manusia dan segala aspek kehidupannya. Aspek fisiologis , biologis, kultural, sosial, kultural, dsb.

Dalam pemenuhan layanan kesehatan, rumah sakit menyediakan segala macam peralatan penunjang dari yang bersifat sederhana dan canggih.

Dari beberapa alat yang terbilang canggih, sebenarnya terdapat suatu kelemahan dimana mikrokontroler chip yang dibangun untuk mengendalikan alat alat tersebut sangat rentan terhadap interferensi (gangguan sinyal) gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh alat alat yang menggunakan pemancaran gelombang elektromagnetik (remote kontrol, radio komunikasi, dan bahkan telepon seluler).

Menurut Jurnal Tahunan tahun 1 Super Sanita 2007  Vol. 43, no. 3: 225-228 disebutkan bahwa kemungkinan besar terjadinya interferensi gelombang elektromagnetik pada alat alat kesehatan di rumah sakit sangat mungkin terjadi, disadari ataupun tidak disadari, diteliti ataupun diabaikan.

Hal senada diungkapkan oleh para peneliti di Eropa (Finland, France, Germany, Italy, Norway, Sweden, Netherlands dan  United Kingdom)  yang dituangkan dalam Journal of Public Health  Vol. 28, No. 4, pp. 299–303, Publication 27 October 2006  tentang interferensi alat alat medis klinik oleh telepon seluler.

Dan terbitan Journal of Public Health  Vol. 28, No. 4, pp. 299–303  Publication 27 October 2006  tentang interferensi elktromagnetik telepon seluler terhadap alat medis di ICU.

Menurut Jurnal Tahunan tahun 1 Super Sanita 2007  Vol. 43, no. 3: 225-228 resiko gangguan (interferensi) gelombang elektromagnetik  tergantung pada beberapa faktor seperti emisi (kekuatan sinyal) ponsel, frekuensi gelombang yang dipakai dan jarak, antena dan model telepon. Rekomendasi utama dan relevan terhadap penyesuaian standard  juga dilaporkan dan dibahas. Dari data yang tersedia dalam literatur muncul bahwa, bahwa dalam jarak 1 m  interferensi elektromagnetik bukan hal yang sepele, walaupun perbedaan persepsi mengatakan 1 m adalah jarak minimun interferensi elektromagnetik.

Menurut Jurnal Tahunan tahun 1 Super Sanita 2007  Vol. 43, no. 3: 204-207

Gangguan (interferensi) alat medis di rumah sakit yang disebabkan oleh sinyal telepon selular diselidiki. Sumber interferensi adalah GSM900, GSM1800, dan tetra380 saat menelpon. Banyaknya peralatan medis yang diuji adalah 23. Untuk mensimulasi kondisi terburuk, telepon disesuaikan untuk memancarkan tenaga maksimum saat diukur. Tidak interferensi pada jarak 5 cm pada GSM 1800. Jarak aman GSM 900 adalah 70 cm, untuk tetraphone adalah 3 m. Karenanya, model paling aman adalah GSM 1800, sedangkan penggunan ponsel GSM 900 dan tetraphone sangat mungkin menimbulkan interferensi yang dapat menimbulkan situasi yang mengancam nyawa.

Indian J Crit Care Med October-December 2008 Vol 12 Issue 4 :

Dalam investigasi terhadap kejadian meninggalnya pasien karena pemakaian adrenalin dalam syringe pump yang mengalami kegagalan pemompaan (pengaturan satuan pompaan per jam).Ini dilakukan dengan menguji jarak yang paling memungkinkan penggunaan telepon seluler terhadap kesalahan syringe pump tersebut, dimana setting awal adalah 30 cc/ jam. Selama beberapa panggilan test, syringe memompa secara spontan sebanyak 999 ml per jam ( volume maksimum yang dikirimkan oleh syringe pump). Efek ini akan tergantung pada obat yang sedang diberikan dan kondisi dari  pasien. Kegagalan pemakaian ini tidak terekam di dalam history alarm syringe pump. Ini adalah peristiwa sangat jarang tetapi sangat  mematikan, dan mempunyai efek luas terhadap konsekuensi ancaman jiwa. Ini semakin memperjelas efek interferensi elektromagnetik terhadap alat alat kesehatan.

Terbitan yang relevan terhadap pembahasan topik ini adalah terbitan Indian Pacing and Electrophysiology Journal (ISSN 0972-6292), 6(4): 226-233 (2006) : tentang interferensi elktromagnetik terhadap implant PPM dan ICD.

Johnson Francis, Michael Niehaus,
“Interference Between Cellular Telephones
and Implantable Rhythm Devices: A Review on Recent Papers”

Satu PPM DDD menyebabkan trigger  ventrikuler. Gangguan interferensi  lebih besar  manakala polaritas PPM yang digunakan adalah unipolar              (4.12% berbanding  1.40%, p<0.01). Gangguan interferensi ini akan hilang dengan sendirinya ketika telepon seluler dijauhkan dari pasien.

Dan  terbitan dari Department of Quality & Training, Max Healthcare, New Delhi, tentang pengaruh interferensi elektromagnetik pada alat kesehatan medis di beberapa ruang di rumah sakit.

Sedangkan efek langsung interferensi elektromagnetik terhadap fiosiologis makhluk hidup dijelaskan dalam Journal of Applied Sciences Research, 4(12): 1994-2000, 2008 tentang pengaruh telepon seluler terhadap otak tikus.

Sebegitu hebatnya pengaruh interferensi elektromagnetik yang terjadi dan mungkin tidak kita sadari sehingga gangguan yang ditimbulkan ”tidak hanya” merusak alat, bahkan ”mengancam jiwa”.

Namun adakalanya timbul sebagian kecil pematenan oleh pihak produsen telepon seluler yang bersifat kontra diktif dengan temuan tersebut. Salah satunya adalah klaim unggul dalam menghilangkan  label ”interferensi” dari sebuah merk terkenal (merek M) :

“We are not aware of any verified reports to the FDA, Health Canada, MHRC in the UK, or other recognized regulatory agencies of pacemaker interference from mobile phones that have resulted in patient harm.”

Dalam Kategori: intensive care


Bagikan Artikel

Komentar ditutup.